Tidur Pakai Plester Mulut? Ini Bukti Ilmiahnya Sebelum Kamu Coba
Tren plester mulut ramai banget di media sosial, tapi buktinya tipis dan risikonya nyata. Ini temuan penelitian sebelum kamu ikut menempel plester malam ini.
Oleh Kurt Woleret

Di suatu tempat di berandamu sekarang, seseorang dengan kulit yang mencurigakan mulusnya sedang memplester mulutnya rapat-rapat untuk tidur malam dan berjanji hidupmu akan berubah. Tidur lebih nyenyak, rahang lebih tegas, semuanya lebih baik. Videonya bikin betah menonton. Klaimnya raksasa. Dan karena pekerjaanku rupanya menjadi orang yang membaca studi di balik tren wellness, aku pun membaca studinya. Siapkan plestermu, atau sebenarnya, jangan dulu. Kita ngobrol dulu.
Teorinya, dalam versi terbaiknya
Biar adil ke para pemlester, ide dasarnya tidak gila. Bernapas lewat hidung memang punya keunggulan sah: hidungmu menyaring, menghangatkan, dan melembapkan udara, dan kebiasaan bernapas lewat mulut di malam hari memang berkaitan dengan ngorok, mulut kering, dan tidur yang lebih buruk pada sebagian orang. Jadi jualannya menulis dirinya sendiri. Kalau napas hidung bagus dan napas mulut jelek, plester saja mulutnya dan paksakan upgrade-nya. Satu strip plester, masalah selesai, produk terjual. Ini jenis logika mekanis rapi yang disukai internet. Sayangnya, tubuh manusia tidak serapi itu.
Apa yang ditemukan penelitian
Pada 2025, tim peneliti yang dipimpin Rhee menerbitkan tinjauan sistematis di PLOS One yang memburu semua studi tentang plester mulut dan penutupan mulut saat tidur. Mereka menemukan sepuluh studi yang mencakup beberapa ratus pasien, dan itu saja sudah bercerita: seluruh basis bukti tren ini muat dalam satu gerbong KRL. Dari sepuluh itu, hanya dua yang menunjukkan perbaikan signifikan secara statistik, dan itu pun terbatas pada orang dengan sleep apnea obstruktif ringan, pada metrik pernapasan tertentu. Sisanya tidak menunjukkan manfaat yang berarti.
Kesimpulan tinjauannya lebih blak-blakan daripada kebanyakan liputan wellness: data yang ada tidak mendukung plester mulut sebagai intervensi klinis yang layak untuk populasi umum dengan gangguan napas saat tidur. Dan tinjauan itu melangkah lebih jauh, menandai risiko bahaya yang berpotensi serius bagi orang yang memplester sembarangan, terutama siapa pun dengan sumbatan hidung. Kalau hidungmu mampet, karena alergi, pilek, atau septum yang bengkok, lalu kamu menyegel jalur napas cadanganmu, kamu baru saja merakit persis keadaan darurat yang sejak awal dihindari oleh tubuhmu.
Sepuluh studi kecil, dua hasil positif seadanya, satu peringatan keselamatan serius. Itulah seluruh bukti di balik plesternya.
Risiko yang paling penting
Ini bagian yang membuat para dokter tidur lebih khawatir daripada yang akan disebut influencer mana pun. Ngorok kencang, megap-megap, dan bernapas lewat mulut di malam hari bukan sekadar kebiasaan unik. Itu sebagian dari tanda klasik sleep apnea obstruktif, kondisi ketika jalan napasmu berulang kali kolaps saat tidur. Memplester mulut tidak mengobatinya. Dia bisa menyembunyikannya. Ngoroknya jadi pelan, videonya tampak bagus, dan penurunan oksigen di baliknya terus terjadi semalaman dengan pintu darurat tersegel. Meredam alarm kebakaran tidak sama dengan memadamkan apinya.
Jadi kelompok yang paling tertarik dengan plester mulut, para pengorok dan penapas mulut, justru kelompok yang paling perlu diperiksa dulu sebelum mendekatinya. Ini bukan menakut-nakuti. Ini cuma urutan kerja yang benar: diagnosis dulu, baru eksperimen.
Kenapa trennya tidak mati-mati
Plester mulut punya semua yang dibutuhkan tren wellness viral. Murah, kelihatan, fotogenik, dan menghasilkan narasi yang ramah plasebo: aku melakukan hal aneh yang disiplin dan bangun merasa jadi orang baru. Tambahkan klaim before-after soal wajah yang belum pernah diverifikasi studi mana pun, dan jadilah konten yang akan selalu menang lari dari tinjauan sistematis mana pun. Sebuah makalah ilmiah dibaca ratusan orang. Video plesternya ditonton sepuluh juta kali. Ketimpangan itu, bukan bukti, yang membuat berandamu terus menyajikannya.
Ada juga inti yang nyata di baliknya: banyak orang memang tidurnya buruk, dan mereka meraih apa pun yang datang dengan janji. Aku paham. Tapi obat tidur yang buruk jarang sekali ditemukan di rak plester.
Yang sebaiknya dicoba
Kalau kamu bangun dengan mulut kering atau pasanganmu melaporkan ngorok, mulailah dari daftar periksa yang tidak glamor. Bereskan hidung mampet dengan benar: obati alerginya, nyalakan humidifier, periksakan sumbatan yang menetap, karena hidung yang berfungsi selalu menang lawan plester. Tidur miring membantu banyak pengorok, dan tidak butuh perekat sama sekali. Kurangi alkohol menjelang tidur, karena dia mengendurkan persis otot tenggorokan yang kamu butuhkan tetap kencang. Dan kalau ngorokmu kencang, atau ada yang pernah melihatmu megap-megap atau berhenti napas saat tidur, periksakan diri untuk sleep apnea sebelum mencoba resep internet apa pun. Yang satu ini tidak bisa ditawar.
Dan kalau masalahmu sebenarnya adalah susah mulai tidur, bukan caramu bernapas setelah terlelap, garap saja ritual menjelang tidurnya. Lampu diredupkan, layar dibikin membosankan, beberapa menit embusan napas panjang dan pelan, latihan 4-7-8 terpandu di Feelsy kalau mau temponya diatur, dan sesuatu yang lembut untuk tempat mata mendarat, seperti tekstur bergerak pelan di autoplay Feelsy. Tidak ada satu pun dari itu yang akan viral. Semuanya lebih aman daripada menyegel jalan napasmu berdasarkan rutinitas skincare orang asing.
Vonis: untuk orang sehat yang bernapas lewat hidung, plester mulut kemungkinan besar tidak perlu. Untuk orang dengan hidung tersumbat atau sleep apnea yang belum terdiagnosis, dia berkisar dari sia-sia sampai sungguh berisiko. Dan untuk kasus sleep apnea ringan yang membaik di dua studi kecil itu, itu adalah percakapan dengan dokter, bukan isi keranjang belanja.
Feelsy adalah produk wellness, bukan saran medis. Kalau stres, rasa cemas, atau masalah tidur terus berlanjut, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga profesional.
Referensi
- Rhee, J., et al. (2025). Breaking social media fads and uncovering the safety and efficacy of mouth taping in patients with mouth breathing, sleep disordered breathing, or obstructive sleep apnea: A systematic review. PLOS One, 20(5), e0323643.
Pertanyaan umum
Apakah plester mulut benar-benar memperbaiki tidur?
Buktinya lemah. Tinjauan sistematis tahun 2025 di PLOS One hanya menemukan sepuluh studi tentang plester mulut, dan cuma dua yang menunjukkan perbaikan signifikan secara statistik, terbatas pada orang dengan sleep apnea obstruktif ringan. Untuk populasi umum, para peninjau menyimpulkan datanya tidak mendukung plester mulut sebagai intervensi tidur yang layak.
Apakah tidur pakai plester mulut berbahaya?
Bisa berbahaya. Tinjauan sistematisnya menandai risiko bahaya yang berpotensi serius bagi orang yang memplester sembarangan, terutama yang hidungnya tersumbat karena alergi, pilek, atau septum bengkok. Menyegel mulut saat hidung mampet berarti menutup jalur napas cadanganmu. Pengorok juga sebaiknya diperiksa dulu untuk sleep apnea, karena plester bisa menutupi tanda bahayanya tanpa mengobatinya.
Kenapa banyak orang bilang plester mulut mengubah tidur mereka?
Ritual murah dan kasatmata dengan narasi kuat menghasilkan efek plasebo yang besar dan konten yang bagus, dan klaim yang belum terverifikasi soal rahang dan energi menyebar lebih cepat daripada studi mana pun. Ada juga inti nyatanya: napas hidung memang menyaring, menghangatkan, dan melembapkan udara, dan sebagian penapas mulut memang tidurnya buruk. Itu tetap tidak menjadikan plester solusi yang tepat.
Apa yang sebaiknya dicoba selain plester mulut?
Obati hidung tersumbat dengan benar, coba tidur miring, hindari alkohol menjelang tidur, dan periksakan diri untuk sleep apnea kalau kamu ngorok kencang atau megap-megap di malam hari. Kalau masalah aslimu susah mulai tidur, bangun ritual menjelang tidur: lampu redup, napas pelan dengan embusan panjang, dan sesuatu yang tenang dan lambat untuk mata alih-alih scrolling.

Tentang penulis
Kurt Woleret
Contributing writer
Kurt is a New York based writer covering the practical science of stress, sleep and focus. He is the resident sceptic of the Journal: if a technique cannot survive a crowded subway commute and a deadline week, he is not interested in it.
Feel it for yourself.
Feelsy turns reading about calm into practising it. Two minutes of a slow texture is often the whole difference.
Bacaan terkait
TidurSelimut Berpemberat: Beneran Bikin Tidur Nyenyak? Ini Kata Riset
Selimut berpemberat katanya bikin tidur lebih tenang lewat tekanan lembut. Ini hasil uji klinis terbaiknya, siapa yang paling terbantu, dan cara memilihnya.
TidurSuhu Kamar yang Ideal untuk Tidur (dan Cara Bikin Kamar Panas Jadi Adem)
Berapa suhu kamar yang ideal untuk tidur? Kenapa kamar yang sejuk bikin kamu cepat terlelap, apa kata riset soal udara panas dan gerah, plus cara mendinginkan kamarmu.
TidurKenapa Masih Ngantuk Padahal Sudah Tidur 8 Jam?
Sudah tidur 8 jam tapi bangun tetap lelah? Lama di kasur tidak sama dengan tidur berkualitas: tidur terputus, jadwal berantakan, kafein, dan cara memperbaikinya.
TidurNewCoffee Nap: Kenapa Ngopi Sebelum Tidur Siang Justru Bikin Kamu Lebih Segar
Coffee nap artinya minum kopi lalu langsung tidur siang 20 menit. Kedengarannya terbalik, tapi rahasianya ada di waktu kerja kafein. Ini sains dan caranya.
TidurNewKenapa Susah Tidur di Hotel? Ini Penjelasan First Night Effect
Selalu susah tidur di malam pertama di tempat baru? Itu first night effect: separuh otakmu benar-benar tetap berjaga. Ini penjelasan sains dan cara mengatasinya.
TidurFeng Shui Kamar Tidur: Menata Kamar Supaya Tidur Lebih Nyenyak
Cara feng shui menata kamar supaya tidurmu lebih nyenyak: posisi ranjang, barang berantakan, warna dan cahaya, plus temuan riset tidur soal kamar tenang.