← Feelsy Journal
Tidur7 menit baca·31 Oktober 2026

Tidur Bifasik: Benarkah Tidur Dua Sesi Semalam Itu Alami?

Tidur bifasik membagi malam jadi dua blok dengan jeda tenang di tengahnya. Ini kata sejarah dan riset tidur soal tidur dua sesi dan siapa yang cocok.

Oleh Kurt Woleret

Kamar tidur bermandikan cahaya bulan yang terbelah seberkas cahaya lembut, satu lilin menyala di samping tempat tidur di bawah langit ungu terong pekat, dengan aksen lavender dan aqua.

Pukul 3.14 dini hari di hari Selasa, terjaga total tanpa alasan, aku melakukan hal yang semua orang lakukan: meraih ponsel dan bertanya ke internet apakah diriku rusak. Internet, tumben-tumbenan, punya kabar baik. Katanya, selama sebagian besar sejarah manusia, terbangun di tengah malam bukanlah kerusakan. Itu memang jadwalnya. Orang-orang tidur dalam dua sesi, dengan satu dua jam terjaga dengan tenang di antaranya, dan tidak ada yang panik karena tidak ada yang berharap malam jadi satu blok mulus tanpa sambungan. Gagasan itu punya nama, tidur bifasik, dan sekarang sedang naik daun, yang artinya ia juga mengumpulkan hype yang belum tentu pantas diterimanya. Jadi mari kita lakukan yang biasa kita lakukan di sini: memilah sejarah dari marketing, dan mencari tahu apakah kamu memang sebaiknya sengaja tidur dalam dua bagian.

Dulu, malam punya jeda istirahat

Bukti sejarahnya nyata, dan ini salah satu riset tidur favoritku karena datang dari arsip, bukan dari laboratorium. Sejarawan A. Roger Ekirch menghabiskan bertahun-tahun menyisir buku harian, catatan pengadilan, teks kedokteran, dan novel dari Eropa praindustri, dan terus menemukan sebutan santai tentang „tidur pertama" dan „tidur kedua" (Ekirch, 2001, The American Historical Review). Bukan sebagai keanehan. Sebagai perabot sehari-hari. Orang tidur tak lama setelah gelap, terbangun sekitar tengah malam selama kurang lebih satu jam, lalu tidur lagi sampai pagi. Jedanya pun ada gunanya: orang berdoa, mengobrol, menjaga perapian, merenungkan mimpinya. Tidak ada yang berbaring sambil mengkhawatirkan skor tidurnya, sebagian karena skor tidur belum ditemukan dan sebagian karena terbangun bukanlah kegagalan. Blok delapan jam tanpa putus, dalam versi cerita ini, adalah penemuan baru, sebagian besar produk lampu listrik dan jadwal kerja industri yang memampatkan malam dan membuat tiap menit terjaga tampak seperti produktivitas yang hilang.

Lalu sebuah laboratorium tanpa sengaja mendukung arsip itu. Dalam eksperimen di National Institute of Mental Health di Amerika, Thomas Wehr meminta orang hidup dengan malam sepanjang 14 jam, tanpa cahaya buatan, selama berminggu-minggu, kurang lebih mensimulasikan dunia pertengahan musim dingin sebelum ada bola lampu. Tidur mereka tidak bertahan dalam satu blok. Ia terbelah dua, dengan rentang terjaga yang tenang di tengahnya (Wehr, 1992, Journal of Sleep Research). Singkirkan lampu listrik dan jadwal yang dipadatkan, dan sesuatu yang mirip tidur pertama dan tidur kedua muncul kembali dengan sendirinya. Itu pertemuan bukti yang mencolok: buku harian dan laboratorium menunjuk ke arah yang sama.

Selama sebagian besar sejarah manusia, terbangun tengah malam bukanlah kerusakan. Itu jeda istirahatnya.

Arti tidur bifasik yang sebenarnya (dan yang bukan)

Tidur bifasik artinya sekadar tidur dalam dua segmen per 24 jam. Versi sejarahnya adalah malam yang terbelah. Versi yang masih hidup adalah siesta: malam yang lebih pendek plus tidur siang, masih lazim di banyak negeri hangat dan diam-diam dipraktikkan di tiap kantor yang punya ruang istirahat berpintu. Di Indonesia sendiri, ritme hidup yang tidak terburu-buru dan tidur siang sebentar setelah makan bukan hal asing. Keduanya pola manusiawi yang biasa saja. Tidak butuh aplikasi, forum, atau manifesto.

Lalu ada versi internetnya: jadwal tidur polifasik dengan nama seperti Uberman, tidur enam kali 20 menit dan konon membuka 22 jam produktif sehari. Di sini bukti berhenti bekerja sama. Panel konsensus National Sleep Foundation meninjau riset tentang mencacah tidur jadi banyak potongan dan menyimpulkan jadwal polifasik membawa kerugian nyata, dari performa yang menurun sampai kurang tidur yang menumpuk, tanpa manfaat yang terbukti dibanding tidur utuh (Adverse impact of polyphasic sleep patterns in humans, 2021, Sleep Health). Masuk akal. Malam dua sesi dalam sejarah bukanlah trik produktivitas; orang tetap menghabiskan sembilan sampai sepuluh jam di tempat tidur. Jadwal menumpuk-numpuk tidur siang ala modern terutama bekerja dengan meyakinkanmu bahwa kurang tidur kronis adalah kepribadian.

Jadi, perlukah kamu tidur dua sesi?

Ini bacaanku atas buktinya, sebagai orang yang kamarnya menghadap jalan tempat ayam jago tetangga menggelar konser rutin jam 4 pagi. Kalau tidurmu baik-baik saja, jangan diperbaiki. Tidur utuh bekerja baik untuk kebanyakan orang dengan jadwal modern, dan sengaja membelah malam sambil tetap ikut meeting jam 9 pagi adalah cara ampuh untuk berakhir dengan dua tidur yang buruk alih-alih satu yang lumayan. Riset bifasik justru berguna di tempat yang lebih spesifik: ia mengubah makna terbangun jam 3 pagi. Kalau kamu terbangun di malam hari, berbaring tenang sebentar, lalu kembali terlelap, itu bukan tidur yang rusak. Itu bisa dibilang pola tidur tertua yang pernah tercatat, dan memperlakukannya sebagai krisis adalah satu-satunya bagian yang baru.

Paniknya lebih berbahaya daripada terbangunnya. Peneliti tidur terus menemukan bahwa kecemasan karena terjaga, mengecek jam, hitung-hitungan mental soal betapa hancurnya hari esok, menghasilkan jauh lebih banyak gejolak daripada kondisi terjaga itu sendiri. Orang-orang zaman praindustri punya keunggulan yang bisa kita tiru: mereka punya kegiatan tenang untuk mengisi jeda itu dan tidak punya anggapan bahwa jeda itu seharusnya tidak ada.

Protokol modern untuk tengah malam

Jadi pinjam saja buku panduan mereka, yang sudah diperbarui untuk orang yang punya pekerjaan:

  • Ubah dulu cara memandangnya. Terjaga jam 3 pagi dalam keadaan tenang adalah bentuk tidur manusia yang normal, bukan keadaan darurat. Cerita yang kamu bisikkan ke diri sendiri di menit itu menentukan satu jam berikutnya.
  • Tanpa jam, tanpa scroll. Mengecek waktu memulai hitung-hitungan kiamat, dan konten ponsel yang terang dan cepat memang dirancang untuk menuntaskan pekerjaan membangunkanmu.
  • Lakukan sesuatu yang redup dan lambat. Jeda malam versi sejarah adalah cahaya lilin dan lamunan tenang, bukan lampu sorot dan urusan laporan pajak. Jaga cahaya tetap rendah, rangsangan lebih rendah lagi.
  • Beri waktu sekitar 20 menit. Kalau kantuk belum kembali, bangunlah, tetap lakukan hal membosankan dan redup, dan kembalilah ke kasur begitu kelopak matamu setuju.

Ini satu-satunya tempat aku cerita apa yang benar-benar kulakukan, karena ini padanan modern dari memandangi bara api. Aku menaruh Feelsy di meja samping tempat tidur persis untuk jeda ini: tekstur gelap yang bergerak lambat dengan kecerahan minimum, jenis visual mengambang yang tidak menuntut apa pun darimu, ditambah satu ronde latihan napas 4-7-8 bawaan aplikasi untuk memperlambat segalanya. Autoplay berarti tanpa keputusan, tanpa menu, tanpa pesta cahaya. Ini acara memandangi lilin untuk penghuni kos dengan aturan dilarang keras menyalakan api, yang di tempatku dijaga ketat oleh ibu kos.

Kesimpulan yang jujur

Tidur bifasik itu alami dalam arti ia adalah bentuk yang mudah diambil tidur manusia saat kondisinya memungkinkan. Itu tidak membuatnya wajib, lebih unggul, atau layak dipaksakan ke dalam hidup yang berjalan di atas rapat-rapat. Pelajaran yang berguna justru lebih kecil dan lebih baik: malammu tidak harus mulus tanpa sambungan untuk jadi sehat, terbangun dengan tenang bukanlah terbangun yang rusak, dan jeda malam paling enak dijalani seperti cara nenek moyang menjalaninya, sebagai rehat yang sunyi, redup, dan biasa-biasa saja. Soal ayam jago tetangga, sayangnya, masih belum ada solusinya.

Feelsy adalah produk wellness, bukan nasihat medis. Kalau stres, kecemasan, atau masalah tidur terus berlanjut, bicaralah dengan profesional yang berkualifikasi.

Referensi

  1. Ekirch, A. R. (2001). Sleep we have lost: Pre-industrial slumber in the British Isles. The American Historical Review, 106(2), 343-386.
  2. Wehr, T. A. (1992). In short photoperiods, human sleep is biphasic. Journal of Sleep Research, 1(2), 103-107.
  3. National Sleep Foundation sleep timing and variability consensus panel (2021). Adverse impact of polyphasic sleep patterns in humans. Sleep Health.

Pertanyaan umum

Apa itu tidur bifasik?

Tidur bifasik berarti tidur dalam dua segmen per 24 jam, bukan satu blok. Bentuknya bisa malam yang terbelah, dua sesi tidur yang dipisah sekitar satu jam terjaga dengan tenang, atau malam yang lebih pendek dipasangkan dengan tidur siang. Keduanya pola tidur manusia yang biasa dan terdokumentasi dengan baik.

Apakah tidur bifasik sehat?

Pola dua blok itu sendiri tampaknya bentuk alami tidur manusia; catatan sejarah dan eksperimen pembatasan cahaya sama-sama menunjukkan pola ini muncul saat malam panjang dan cahaya buatan tidak ada. Tapi untuk kebanyakan orang dengan jadwal modern, tidur utuh bekerja dengan baik, dan tidak perlu memaksakan malam yang terbelah kalau tidurmu baik-baik saja.

Apa itu tidur pertama dan tidur kedua?

Di Eropa praindustri, orang lazim tidur dalam dua sesi: tidur pertama dimulai tak lama setelah gelap, lalu satu dua jam terjaga dengan tenang sekitar tengah malam, lalu tidur kedua sampai pagi. Sejarawan A. Roger Ekirch mendokumentasikan ratusan sebutan santai tentang pola ini di buku harian, catatan pengadilan, dan sumber lain, yang menunjukkan pola ini dulu dianggap sangat biasa.

Apakah tidur polifasik, seperti jadwal Uberman, ide yang bagus?

Buktinya bilang tidak. Panel konsensus National Sleep Foundation menemukan jadwal yang mencacah tidur jadi banyak tidur singkat membawa kerugian nyata, termasuk performa menurun dan kurang tidur yang menumpuk, tanpa manfaat yang terbukti dibanding tidur utuh. Malam dua sesi dalam sejarah bukan cara untuk tidur lebih sedikit; orang tetap berjam-jam berada di tempat tidur.

Apa yang sebaiknya dilakukan saat terbangun jam 3 pagi?

Tetap tenang, jangan mengecek jam atau ponsel, dan jaga semuanya tetap redup dan lambat. Terbangun dengan tenang lalu kembali terlelap sesuai dengan pola tidur manusia tertua yang tercatat, dan kecemasan karena terjaga biasanya merampas lebih banyak tidur daripada terjaganya itu sendiri. Kalau kantuk belum kembali setelah sekitar 20 menit, bangun sebentar dan lakukan hal membosankan sampai rasa kantuk datang lagi.

Portrait of Kurt Woleret

Tentang penulis

Kurt Woleret

Contributing writer

Kurt is a New York based writer covering the practical science of stress, sleep and focus. He is the resident sceptic of the Journal: if a technique cannot survive a crowded subway commute and a deadline week, he is not interested in it.

Feel it for yourself.

Feelsy turns reading about calm into practising it. Two minutes of a slow texture is often the whole difference.

Download Feelsy on the App StoreGet Feelsy on Google Play

Bacaan terkait

Kamar tidur gelap di dini hari, cahaya lavender dan aqua samar di atas seprai kusut, dengan pendar merah muda lembut di jendela.
Tidur

Kenapa Kamu Terbangun Jam 3 Pagi (dan Cara Tidur Lagi)

Terbangun jam 3 pagi bukan kutukan atau tanda ada yang rusak. Ini sains tidur di balik bangun tengah malam, dan apa yang benar-benar membantumu tidur lagi.

Kurt WoleretAug 7, 20267 menit baca
Gelombang berlapis tembus pandang berwarna lavender, mawar, dan biru laut yang turun ke laut gelap nyaris hitam, seperti tahapan tidur.
Tidur

Siklus Tidur: Apa yang Terjadi Setiap 90 Menit Saat Kamu Tidur

Apa itu siklus tidur sebenarnya, berapa lama satu putarannya, kenapa tidur nyenyak menumpuk di awal malam, dan cara mengatur alarm supaya bangun pagi terasa lebih ringan.

Kurt WoleretSep 6, 20267 menit baca
Jam pasir kaca di meja samping tempat tidur yang sedikit kusut, pasirnya berpendar lavender dan rose dalam cahaya bulan beraksen aqua di kegelapan ungu terong.
Tidur

Sebenarnya Kamu Butuh Tidur Berapa Jam? Melihat Angkanya dengan Jujur

Delapan jam adalah angka yang semua orang kutip tapi hampir tak ada yang tahu sumbernya. Ini asal rekomendasi tidur resmi dan cara menemukan angka tidurmu.

Kurt WoleretOct 16, 20267 menit baca
Jam analog di meja samping tempat tidur berpendar lembut saat fajar di sebelah sosok yang tertidur, dengan cahaya lavender dan aqua merembes lewat tirai ke bayangan terong yang pekat.
TidurNew

Kenapa Kamu Sering Bangun Tepat Sebelum Alarm Berbunyi

Bangun beberapa menit sebelum alarm itu bukan hal mistis. Jam biologismu memprediksi pagi dan menyiapkan tubuh lebih dulu. Ini sains di balik bangun sebelum alarm.

Kurt WoleretNov 3, 20267 menit baca
Langit yang berubah dari malam ungu terong pekat dengan bulan sabit dan siluet burung hantu menjadi fajar lembut berwarna mawar dan biru laut di atas perbukitan yang tenang.
Tidur

Tim Begadang vs Tim Bangun Pagi: Sains di Balik Kronotipe

Suka begadang atau gampang bangun pagi bukan soal rajin atau malas, tapi kronotipe bawaan tubuh. Ini kata sains soal jam biologis dan cara berdamai dengannya.

Kurt WoleretOct 30, 20267 menit baca
Cahaya fajar yang lembut jatuh ke kamar tidur gelap dan jam weker analog di meja samping tempat tidur.
Tidur

Cara Bangun Pagi Tanpa Menyiksa Diri, Menurut Sains Tidur

Pengin jadi morning person? Begini cara bangun pagi pakai cahaya, jam bangun konsisten, dan langkah kecil, sesuai temuan sains ritme sirkadian tubuh.

Kurt WoleretOct 28, 20266 menit baca