Cara Mengatasi Jet Lag: Buku Panduan Jam Tubuhmu
Jet lag bukan capek biasa, tapi jam tubuhmu yang masih berjalan di kota yang salah. Begini cara cahaya, pengaturan waktu, dan sedikit rencana mempercepat resetnya.
Oleh Kurt Woleret

Aku pernah mendarat di Amsterdam jam 8 pagi setelah penerbangan malam dari Jakarta, menenggak tiga cangkir kopi karena panik, lalu tertidur dengan muka nyaris menyentuh piring di makan siang yang harganya lebih mahal dari ongkos KRL-ku sebulan. Perjalanan itulah yang akhirnya membuatku membaca sains jet lag yang sungguhan, bukan artikel daftar tips. Kabar buruknya: tidak ada trik yang bisa membuatnya lenyap. Kabar baiknya: jet lag adalah salah satu masalah paling bisa diprediksi dan paling bisa diperbaiki di seluruh dunia tidur, karena intinya bukan soal capek. Intinya soal jam. Dan jam bisa disetel ulang, asal kamu tahu kenop mana yang benar-benar berfungsi.
Apa sebenarnya jet lag itu
Jauh di dalam otakmu ada jam induk, sekumpulan neuron yang mengatur ritme harianmu: kapan kamu mengantuk, kapan suhu tubuh turun, kapan hormon seperti melatonin dan kortisol naik dan turun. Terbang dari Jakarta ke Amsterdam berarti memindahkan tubuhmu lima sampai enam zona waktu dalam belasan jam, tapi jam internal itu masih berdetak di waktu Indonesia. Dia mengira jam 3 dini hari sedang terjadi pada jam 9 pagi waktu setempat. Jadi tubuhmu menumpahkan kantuk saat makan siang dan kesegaran penuh justru tengah malam. Ketidakcocokan itulah jet lag. Bukan lemah, bukan kebiasaan tidur yang buruk, melainkan kimia tubuhmu sendiri yang masih berjalan di kota yang salah.
Kalau dibiarkan, jam itu bergeser pelan menuju waktu setempat, kira-kira satu zona waktu per hari, sering lebih lambat kalau terbang ke timur. Itu sebabnya lompatan enam zona bisa merusak hampir seminggu penuh. Riset tentang ritme sirkadian, dirangkum dalam makalah terkenal berjudul blak-blakan How To Travel the World Without Jet Lag, menunjukkan pergeseran itu tidak kaku: kamu bisa mempercepatnya drastis dengan mengendalikan satu hal di atas segalanya. Cahaya.
Cahaya adalah kenop terbesar
Jam indukmu menyetel dirinya terutama dari kapan cahaya terang mengenai matamu. Cahaya di jam-jam setelah titik terendah suhu tubuhmu, yang jatuh kira-kira dua sampai tiga jam sebelum waktu bangunmu yang biasa, mendorong jam ke arah lebih awal. Cahaya sebelum titik rendah itu mendorongnya ke arah lebih larut. Satu kalimat itu pada dasarnya seluruh permainannya, dan dia menjelaskan bagian yang berlawanan dengan intuisi: setelah penerbangan panjang ke timur, berjalan-jalan di bawah matahari pagi buta justru bisa memperparah jet lag, karena tubuhmu membaca cahaya itu sebagai larut malam dan menggeser jam ke arah yang salah.
Jadi kuncinya bukan lebih banyak cahaya, melainkan cahaya yang diatur waktunya. Terbang ke timur, lindungi matamu dari terang pagi buta selama satu dua hari pertama, kacamata hitam juga sah, lalu berjemurlah di cahaya menjelang siang dan tengah hari. Terbang ke barat, lakukan sebaliknya: cari cahaya sore, biarkan pagi tetap redup. Setiap hari titik terendah internalmu bergeser menuju waktu setempat, dan jendela cahayamu ikut bergerak. Kedengarannya ribet. Tapi inilah beda antara tiga hari melayang dan enam hari.
Jet lag tidak sembuh oleh tekad atau kopi. Dia sembuh oleh foton yang mendarat di jam yang tepat.
Panduan praktisnya
Inilah yang didukung bukti sirkadian, diterjemahkan jadi hal-hal yang bisa benar-benar dilakukan orang yang memegang boarding pass:
- Mulai sebelum terbang. Menggeser tidur, makan, dan paparan cahaya satu jam per hari ke arah waktu tujuan selama dua tiga hari sebelum berangkat membuatmu mendarat dalam kondisi setengah teradaptasi.
- Setel jam tanganmu ke waktu tujuan begitu naik pesawat, dan bersikaplah sesuai itu: tidur di pesawat kalau di sana malam, tetap bangun kalau di sana siang.
- Di tempat tujuan, patok waktu bangunmu ke pagi setempat sejak hari pertama, sekalipun malamnya berantakan. Waktu bangun yang konsisten adalah pasak tempat jammu menata ulang dirinya.
- Pakai kafein sebagai alat, bukan gaya hidup: boleh di pagi setempat, berhenti di awal sore, karena segelas kopi sore diam-diam menyabotase malam pertamamu di sana.
- Tidur siang singkat saja. Dua puluh sampai tiga puluh menit menambal kewaspadaan tanpa mencuri tekanan tidur malam nanti. Koma dua jam di hotel jam 4 sore me-reset kamu ke antah-berantah.
Arah juga berpengaruh. Perjalanan ke barat, yang membuatmu begadang lebih lama, lebih mudah bagi kebanyakan orang karena jam tubuh memang berjalan sedikit lebih panjang dari 24 jam dan senang direntangkan. Perjalanan ke timur memampatkan harimu dan melawan kecenderungan itu; itu sebabnya terbang ke Sydney atau Tokyo sering terasa lebih berat daripada pulangnya. Siapkan stok sabarmu sesuai arah.
Yang tidak pantas menerima uangmu
Jet lag mengundang banyak dagangan: diet ajaib, gelang titik pijat, tumpukan suplemen dengan nama macam FlightRecover Ultra. Ringkasan jujurnya: tidak ada satu pun yang menggerakkan jam indukmu, karena jam itu tidak peduli pada semua itu. Dia peduli pada cahaya, lalu pada kapan kamu tidur dan makan. Melatonin, diminum pada waktu yang tepat, punya efek sirkadian sungguhan dan jadi satu-satunya pengecualian yang layak dibicarakan dengan tenaga profesional, apalagi karena pengaturan waktunya adalah seluruh triknya, dan salah waktu malah menggesermu ke arah yang salah, sama seperti cahaya.
Malam pertama, beres
Momen tersulit adalah jam 11 malam waktu setempat, saat otakmu bersikeras ini masih sore dan menyodorkan satu paket lengkap pikiran yang berpacu. Jangan dilawan dengan otot. Jalankan rutinitas melambat yang membosankan dan bisa ditebak: kamar redup, mandi air hangat, tanpa linimasa berita. Di sinilah aku memakai Feelsy di ponsel, di kamar hotel yang gelap, tekstur slime yang bergerak pelan di layar dengan suara kecil, bernapas mengikuti latihan 4-7-8 sampai mataku berat. Bukan karena aplikasi bisa me-reset jam sirkadian, tidak bisa, tapi karena dia menjauhkanku dari bagian ponsel yang terang dan bikin gelisah sementara kantuk menyusul. Beri jammu jadwal cahayanya di siang hari dan beri dirimu sesuatu yang lembut di malam hari, karena tubuh yang diajak pelan-pelan juga berhak istirahat, dan di hari ketiga kota di luar jendela dan kota di dalam kepalamu biasanya sudah jadi kota yang sama.
Feelsy adalah produk wellness, bukan nasihat medis. Kalau stres, kecemasan, atau masalah tidur terus berlanjut, bicaralah dengan profesional yang berkualifikasi.
Referensi
- Eastman, C. I., & Burgess, H. J. (2009). How To Travel the World Without Jet Lag. Sleep Medicine Clinics, 4(2), 241–255.
Pertanyaan umum
Berapa lama jet lag berlangsung?
Kalau dibiarkan, jam tubuh menyesuaikan diri kira-kira satu zona waktu per hari, dan sering lebih lambat setelah terbang ke timur. Jadi perjalanan enam zona waktu bisa butuh hampir seminggu untuk benar-benar pulih. Kamu bisa mempercepatnya banyak dengan mengatur waktu paparan cahaya terang, mematok waktu bangun ke pagi setempat, dan menjaga tidur siang tetap singkat.
Jet lag lebih parah terbang ke timur atau ke barat?
Ke timur, bagi kebanyakan orang. Terbang ke barat merentangkan harimu, dan jam tubuh memang berjalan sedikit lebih panjang dari 24 jam, jadi dia kuat diajak begadang. Terbang ke timur memampatkan hari dan memaksa jam maju lebih awal, dan dia melawan. Itu sebabnya berangkat ke arah timur biasanya terasa lebih berat daripada penerbangan pulangnya.
Haruskah aku tidur di pesawat?
Hanya kalau di tempat tujuanmu sedang malam. Trik yang berguna: setel jammu ke waktu tujuan begitu naik pesawat dan bersikaplah seolah kamu sudah di sana. Tidur kalau di sana malam, tetap terjaga dengan cahaya dan gerakan kalau di sana siang. Ini memulai penyesuaian sebelum kamu mendarat.
Apakah kopi membantu mengatasi jet lag?
Dia membantu melawan kantuknya, bukan jamnya. Kopi di pagi waktu setempat adalah tambalan yang masuk akal untuk kewaspadaan, tapi kafein di sore atau malam hari bisa merusak malam-malam pertama tidurmu di sana, yang justru memperlambat penyesuaian sesungguhnya. Minum di awal hari, lalu berhenti.
Bisakah jet lag dicegah sebelum berangkat?
Sebagian, bisa. Menggeser tidur, jam makan, dan paparan cahaya sekitar satu jam per hari ke arah waktu tujuan selama dua sampai tiga hari sebelum berangkat membuatmu mendarat dengan sebagian penyesuaian sudah jalan. Satu hari yang digeser pun sudah mengurangi beratnya perjalanan panjang ke timur.

Tentang penulis
Kurt Woleret
Contributing writer
Kurt is a New York based writer covering the practical science of stress, sleep and focus. He is the resident sceptic of the Journal: if a technique cannot survive a crowded subway commute and a deadline week, he is not interested in it.
Feel it for yourself.
Feelsy turns reading about calm into practising it. Two minutes of a slow texture is often the whole difference.
Bacaan terkait
TidurCara Memperbaiki Jam Tidur yang Berantakan Tanpa Menyiksa Diri
Jam tidurmu berantakan gara-gara begadang dan waktu tidur cuma jadi wacana? Ini cara mereset jam biologis dengan cahaya, timing, dan kesabaran, bukan sekadar tekad.
TidurSiklus Tidur: Apa yang Terjadi Setiap 90 Menit Saat Kamu Tidur
Apa itu siklus tidur sebenarnya, berapa lama satu putarannya, kenapa tidur nyenyak menumpuk di awal malam, dan cara mengatur alarm supaya bangun pagi terasa lebih ringan.
TidurCoffee Nap: Kenapa Ngopi Sebelum Tidur Siang Justru Bikin Kamu Lebih Segar
Coffee nap artinya minum kopi lalu langsung tidur siang 20 menit. Kedengarannya terbalik, tapi rahasianya ada di waktu kerja kafein. Ini sains dan caranya.
TidurNewKenapa Kamu Sering Bangun Tepat Sebelum Alarm Berbunyi
Bangun beberapa menit sebelum alarm itu bukan hal mistis. Jam biologismu memprediksi pagi dan menyiapkan tubuh lebih dulu. Ini sains di balik bangun sebelum alarm.
TidurTidur Bifasik: Benarkah Tidur Dua Sesi Semalam Itu Alami?
Tidur bifasik membagi malam jadi dua blok dengan jeda tenang di tengahnya. Ini kata sejarah dan riset tidur soal tidur dua sesi dan siapa yang cocok.
TidurTim Begadang vs Tim Bangun Pagi: Sains di Balik Kronotipe
Suka begadang atau gampang bangun pagi bukan soal rajin atau malas, tapi kronotipe bawaan tubuh. Ini kata sains soal jam biologis dan cara berdamai dengannya.