← Feelsy Journal
ASMR7 menit baca·7 Agustus 2026

Misofonia: Saat Suara Orang Mengunyah Bikin Kamu Marah Sendiri

Suara kunyahan, tarikan ingus, klik pulpen: buat sebagian orang, suara ini memicu amarah sungguhan. Kenali apa itu misofonia, kata riset, dan cara mengatasinya.

Oleh Kurt Woleret

Riak suara konsentris abstrak berwarna terong gelap dengan gelombang lavender dan aqua serta aksen mawar yang tegang di tengahnya.

Ada tetangga kos yang tiap pagi makan kerupuk di dekat kamarku. Kriuknya renyah, basah, dan santai banget. Aku belum pernah lihat orangnya, tapi suara kunyahannya sudah kuhafal seperti lagu yang paling kubenci, dan setiap hari, selama beberapa detik, rasanya pengin pindah ke planet lain. Reaksi ini jelas nggak sebanding dengan sebungkus kerupuk. Kalau kamu paham persis maksudku, kemungkinan kamu punya misofonia versi ringan. Kalau menurutmu aku lebay, berarti kamu nggak punya, dan itu patut disyukuri.

Ini adalah sisi lain dari koin ASMR. Di blog ini kita biasanya membahas suara yang bikin rileks: bisikan, tapping, desis lembut kuas. Misofonia adalah rangkaian saraf yang sama, tapi berjalan terbalik. Suara tertentu bukannya menenangkan, malah menyulut sumbu.

Apa itu misofonia sebenarnya

Misofonia, secara harfiah berarti "kebencian terhadap suara", adalah reaksi kuat dan otomatis terhadap suara pemicu tertentu, biasanya suara yang dibuat orang lain. Kunyahan adalah contoh klasik. Ada juga tarikan ingus, deheman, klik pulpen, kecapan bibir, bunyi keyboard orang, permen karet. Reaksinya bukan sekadar "ih, ganggu banget". Ini lonjakan marah atau panik yang cepat dan terasa di badan, kadang disertai rasa jijik sungguhan, dan datangnya sebelum kamu sempat memutuskan apa pun. Banyak yang menggambarkan rasa ingin kabur dari ruangan atau, dengan agak malu, ingin melempar sesuatu ke sumber suaranya.

Dua hal membuatnya beda dari kesal biasa. Pertama, sifatnya spesifik: kunyahan satu orang bisa bikin kamu naik darah, sementara suara keras biasa, bor jalanan, sirene, mungkin nggak mengganggu sama sekali. Kedua, sering kali makin parah kalau suaranya datang dari orang terdekat. Ini kejam banget, karena orang yang paling kamu sayang justru jadi orang yang nggak bisa duduk makan di sebelahmu.

Bukan kamu yang cari masalah

Bertahun-tahun, orang dengan misofonia disuruh santai, jangan sensitif, jangan kekanak-kanakan. Lalu para peneliti memasukkan mereka ke pemindai otak, dan teori "jangan drama" langsung runtuh. Dalam sebuah studi tentang dasar misofonia di otak, suara pemicu memantik aktivitas yang luar biasa kuat di area bernama korteks insular anterior, pusat yang menandai hal penting dan menghubungkan suara dengan emosi serta kondisi tubuh, dan area ini terhubung berlebihan dengan wilayah yang mengurus memori emosional dan ancaman (Kumar et al., 2017, Current Biology). Para partisipan juga menunjukkan respons stres fisik yang lebih besar terhadap pemicunya, detak jantung lebih cepat dan konduktansi kulit lebih tinggi.

Kalau diterjemahkan dari bahasa neurosains: otak orang dengan misofonia tampaknya menyambungkan suara yang tak berbahaya langsung ke sistem ancaman dan rasa jijik. Itu bukan cacat karakter atau cari perhatian. Itu refleks otomatis, satu kategori dengan kaget. Kamu nggak akan menyuruh orang "santai dong" gara-gara dia kaget, dan sopan santun yang sama berlaku di sini.

Rangkaiannya sama dengan ASMR, cuma berjalan terbalik. Satu suara bikin rileks; suara lain menyulut sumbu.

Tumpang tindih yang aneh dengan ASMR

Nah, ini bagian yang menurutku paling menarik. Misofonia dan ASMR, dalam arti tertentu, bersaudara. Keduanya adalah respons yang luar biasa kuat, otomatis, dan sangat personal terhadap suara-suara pelan tertentu, sering kali suara yang persis sama. Tapping, suara mulut, dan tekstur lembut yang berulang muncul di kedua daftar; satu kubu merasa nikmat, kubu lain merasa tersiksa. Sebagian orang, anehnya, merasakan dua-duanya: tenang mendengar bisikan, murka mendengar kunyahan. ASMR terbukti punya tanda fisiologis yang konsisten, termasuk turunnya detak jantung yang terukur saat sensasi tingles muncul (Poerio et al., 2018, PLOS One). Misofonia membawa kebalikannya: detak jantung naik, badan siaga. Wilayah otak yang sama, vonis yang berlawanan.

Belum ada yang benar-benar tahu kenapa sistem saraf satu orang mengarsipkan "ada yang mengunyah di dekatku" sebagai aman dan akrab, sementara sistem saraf orang lain mengarsipkannya sebagai ancaman. Tapi benang merahnya: suara-suara pelan, manusiawi, dan berjarak dekat ini tidak netral bagi banyak orang. Suara ini membawa muatan. Ke arah mana muatan itu mengalir, tampaknya sudah tertanam cukup dalam.

Yang benar-benar membantu

Nggak ada obat ajaib, dan curigailah siapa pun yang menjualnya. Tapi kelegaan yang nyata itu ada, dan kebanyakan bentuknya sederhana:

  • Tutupi suaranya, jangan cuma bertahan. Suara latar yang stabil, brown atau pink noise pelan, kipas angin, soundscape, menaikkan lantai suara supaya pemicunya nggak menonjol terlalu jauh. Ini langkah rumahan yang paling bisa diandalkan.
  • Pakai penyumbat telinga secara strategis, bukan terus-menerus. Alat ini bagus untuk situasi berat tertentu, kantor open space, perjalanan jauh naik KRL atau bus. Kalau dipakai seharian, telingamu makin haus keheningan, dan pemicu terdengar makin keras saat lolos.
  • Ceritakan ke orang-orang terdekat. "Ini kondisi saraf beneran, bukan soal kamu, dan kadang aku perlu pindah duduk" jauh lebih diterima daripada memendam kesal diam-diam yang akhirnya meledak jadi ketus.
  • Beri refleks itu saingan. Saat pemicu datang, embusan napas panjang plus sesuatu untuk dilihat atau disentuh, sebuah tekstur, napas yang diatur, memberi sistem sarafmu kanal lain untuk dipegang, bukan spiral amarah.
  • Untuk versi berat, cari bantuan profesional. Terapi perilaku kognitif dan pendekatan mirip retraining tinnitus punya dukungan paling kuat, dan klinisi yang paham misofonia nggak akan menyuruhmu kuat-kuatan.

Diam-diam, ini juga alasan kenapa tool seperti Feelsy bisa dapat tempat di keseharian orang dengan misofonia. Bukan sebagai obat; itu nggak ada. Tapi soundscape yang hangat dan rendah yang mengalir di bawah riuhnya kantor terbuka, dipasangkan dengan visual pelan di mode autoplay supaya mata punya tempat pergi, mengerjakan tugas masking plus jangkar yang mencegah satu pemicu menyandera sepanjang sore. Di pagi-pagi saat suara kerupuk itu terdengar, itulah yang terpasang di telingaku.

Intinya

Kalau suara manusiawi sehari-hari melemparmu ke amarah yang nggak bisa kamu jelaskan atau kendalikan, kamu nggak rusak dan nggak sedang cari-cari masalah. Kamu punya sistem saraf yang salah melabeli suara-suara pelan tertentu sebagai ancaman, sebuah kondisi nyata yang makin banyak diteliti dan punya nama. Refleksnya nggak bisa didebat sampai hilang, tapi kamu bisa mengecilkan volume dunia, jujur ke orang-orangmu, dan berhenti memperlakukan reaksimu sebagai cacat moral. Memang bukan itu. Ini cuma soal rangkaian saraf, dan rangkaian saraf bisa disiasati.

Feelsy adalah produk wellness, bukan saran medis. Kalau stres, rasa cemas, atau masalah tidur terus berlanjut, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga profesional.

Referensi

  1. Kumar, S., Tansley-Hancock, O., Sedley, W., et al. (2017). The brain basis for misophonia. Current Biology, 27(4), 527-533.
  2. Poerio, G. L., Blakey, E., Hostler, T. J., & Veltri, T. (2018). More than a feeling: Autonomous sensory meridian response (ASMR) is characterized by reliable changes in affect and physiology. PLOS One, 13(6), e0196645.

Pertanyaan umum

Apa itu misofonia?

Misofonia, secara harfiah 'kebencian terhadap suara,' adalah reaksi kuat dan tidak disengaja, biasanya marah, panik, atau jijik, terhadap suara pemicu tertentu yang dibuat orang lain, seperti mengunyah, mengendus, berdeham, atau bunyi klik pulpen. Reaksi ini muncul sebelum kamu sempat berpikir, dan biasanya lebih parah kalau suaranya berasal dari orang dekat.

Apakah misofonia cuma soal terlalu sensitif atau lebay?

Tidak, riset pencitraan otak menemukan suara pemicu memicu aktivitas yang sangat kuat di korteks insular anterior, pusat yang menghubungkan suara dengan emosi dan kondisi tubuh, dan wilayah ini terhubung terlalu erat dengan area yang mengurus ingatan emosional dan ancaman (Kumar dkk., 2017). Penyandang misofonia juga menunjukkan respons stres fisik yang lebih besar, seperti detak jantung yang lebih cepat.

Bagaimana hubungan misofonia dengan ASMR?

Keduanya digambarkan seperti saudara, sama-sama respons kuat dan tidak disengaja terhadap suara pelan yang sama, seperti ketukan atau suara mulut. ASMR disertai penurunan detak jantung yang terukur saat merinding, sementara misofonia justru sebaliknya, detak jantung naik dan tubuh menegang.

Apa yang benar-benar bisa membantu mengatasi misofonia?

Menutupinya dengan suara latar yang stabil seperti white noise pelan atau soundscape membantu menaikkan ambang batas sehingga pemicu tidak terasa terlalu mencolok. Memakai penyumbat telinga secara strategis, bukan terus-menerus, menjelaskan kondisi ini pada orang terdekat, dan memberi refleks itu perhatian tandingan seperti embusan napas pelan atau visual untuk ditatap semua membantu, dan terapi perilaku kognitif punya dukungan riset paling kuat untuk kasus yang berat.

Portrait of Kurt Woleret

Tentang penulis

Kurt Woleret

Contributing writer

Kurt is a New York based writer covering the practical science of stress, sleep and focus. He is the resident sceptic of the Journal: if a technique cannot survive a crowded subway commute and a deadline week, he is not interested in it.

Feel it for yourself.

Feelsy turns reading about calm into practising it. Two minutes of a slow texture is often the whole difference.

Download Feelsy on the App StoreGet Feelsy on Google Play

Bacaan terkait

Seseorang yang tenang memakai headphone dengan mata terpejam, diterangi cahaya lembut ponsel di kamar yang remang.
ASMR

Trigger ASMR: Panduan Lengkap Menemukan Sensasi Merinding yang Bikin Rileks

Dari bisikan dan ketukan sampai slime dan tangan pelan: trigger ASMR paling umum, cara menemukan trigger-mu, dan kenapa sebagian orang tidak merasakannya.

Eleonor VanceJul 30, 20267 menit baca
Seorang pendengar berheadphone di kamar gelap, tenang tapi tak tergerak, dikelilingi riak suara lavender dan aqua yang samar.
ASMR

Kenapa Kamu Nggak Merasakan Tingles ASMR (dan Apakah Itu Masalah)

Sudah nonton video bisikan berjam-jam tapi nggak merasa apa-apa? Bisa jadi otakmu memang bukan tipe tingles, dan itu bukan masalah. Ini penjelasan risetnya.

Kurt WoleretJul 31, 20266 menit baca
Garis-garis cahaya terang melebur ke dalam bidang ungu tua yang tenang dengan satu bola cahaya lembut.
Napas & Tubuh

Sensory Overload: Kenapa Terjadi dan Cara Menemukan Tenang Lagi

Apa itu sensory overload, kenapa tempat ramai dan bising bisa bikin sistem saraf kewalahan, dan cara-cara lembut untuk kembali tenang saat semuanya terasa terlalu banyak.

Eleonor VanceAug 7, 20267 menit baca
Mikrofon studio bercahaya lembut merah muda dan lavender dengan latar ungu terung yang nyaris hitam.
ASMRNew

Suara Mulut ASMR: Kenapa Banyak yang Suka, tapi Kamu Mungkin Benci

Suara mulut adalah trigger ASMR yang paling bikin pro kontra: menenangkan buat sebagian orang, bikin kesal buat yang lain. Ini penjelasan sains di baliknya.

Kurt WoleretSep 18, 20267 menit baca
Sepasang tangan memegang kuas lembut ke arah penonton di samping mikrofon, diterangi cahaya lavender di tengah gelap ungu terung.
ASMR

ASMR Personal Attention: Kenapa Potong Rambut Bohongan Bikin Otak Rileks Beneran

Kenapa video roleplay ASMR seperti potong rambut atau creambath virtual bikin rileks: sains di balik personal attention dan cara memakainya supaya kamu cepat tidur.

Kurt WoleretSep 11, 20267 menit baca
Ujung jari mengetuk pelan di dekat mikrofon yang menyala dalam gelap, digambar dalam warna lavender dan mawar dengan lingkaran suara aqua yang lembut.
ASMR

ASMR untuk ADHD: Kenapa Video Tapping Menenangkan Otak yang Gelisah

Kenapa trigger ASMR yang lembut bisa menenangkan otak ADHD yang gelisah: apa kata riset soal relaksasi dan fokus, plus cara memakai tingles buat menenangkan malammu.

Kurt WoleretSep 7, 20267 menit baca