Kaki Goyang dan Tangan Usil Ternyata Bantu Fokus: Mengenal Stimming
Fidget toys, kaki goyang, corat-coret di buku: pengganggu fokus atau justru alat bantunya? Ini kata riset ADHD dan stimming soal tangan yang susah diam.
Oleh Kurt Woleret

Aku suka mengklik pulpen. Kakiku goyang di bawah meja, kencangnya mungkin sampai terekam seismograf. Waktu SD, guruku menempel catatan di mejaku: DUDUK MANIS, TANGAN DIAM. Dan jujur saja, tanganku tidak jadi diam, cuma jadi diam-diam sebal. Jadi aku punya kepentingan pribadi dengan pertanyaan ini: apakah gerak-gerak gelisah itu kebiasaan buruk yang harus dihilangkan, atau alat yang tidak perlu lagi kamu minta maafkan? Risetnya sekarang jauh lebih menarik daripada catatan di meja itu. Dan hasilnya sebagian besar berpihak pada kakiku.
Pertama, kita sebenarnya bicara soal apa
Ada dua istilah yang sering muncul. Fidgeting adalah gerakan kecil gelisah yang dilakukan hampir semua orang: mengetuk-ngetuk jari, klik pulpen, kaki goyang, memutar cincin. Stimming, singkatan dari perilaku stimulasi diri, masih satu keluarga gerakan repetitif. Istilah ini lahir dari komunitas autisme dan ADHD, mencakup apa saja dari menjentikkan jari, mengayun badan, sampai bersenandung. Batas keduanya kabur, lebih soal kadar dan konteks. Di baliknya ada satu ide yang sama: tubuh meraih gerakan berulang untuk mengatur kondisi di dalam dirinya sendiri. Kalau diucapkan sepolos itu, kedengarannya bukan cacat. Kedengarannya seperti regulasi diri.
Temuan yang mengubah cara pandang soal gelisah
Bertahun-tahun anggapannya begini: anak yang gelisah adalah anak yang tidak fokus, dan solusinya disuruh diam. Lalu para peneliti benar-benar mengukurnya. Dalam sebuah studi pada anak laki-laki dengan ADHD, mereka memakai sensor gerak sambil mengerjakan tugas yang membebani memori kerja, semacam papan coret-coretan mental untuk menampung dan mengolah informasi. Hasilnya membalik cerita: anak-anak bergerak jauh lebih banyak justru saat tugasnya paling sulit, dan yang penting, makin banyak gerakan selama tugas berat itu berkaitan dengan performa yang lebih baik, bukan lebih buruk (Sarver et al., 2015, Journal of Abnormal Child Psychology). Gerakan itu bukan fokus yang bocor keluar. Ia justru tampak seperti mesin yang dipakai anak-anak untuk menahan fokus tetap di tempatnya.
Ini temuan besar, karena ia membingkai ulang hiperaktivitas, setidaknya sebagian, sebagai strategi kompensasi dan bukan sekadar gangguan. Gerakan itu mungkin membantu menaikkan tingkat kewaspadaan sampai ke level yang dibutuhkan tugas. Menyuruh anak seperti itu duduk diam sempurna bisa berarti menyita justru hal yang membuatnya tetap nyala. Kakiku, ternyata, sedang lembur, bukan berulah.
Gerakan gelisah itu bukan fokus yang bocor keluar. Bagi sebagian anak, itu mesin yang menahan fokus tetap di tempatnya.
Kenapa gerakan menopang otak yang gampang melayang
Penjelasan utamanya soal tingkat kewaspadaan. Untuk fokus, otakmu perlu berada di zona kesiagaan tertentu: terlalu rendah kamu melamun, terlalu tinggi kamu buyar. Bagi sebagian orang, apalagi dengan ADHD, zona itu sulit dipertahankan saat tugasnya membosankan atau berat. Aliran gerakan kecil di latar belakang, kaki yang goyang, benda yang diputar-putar di tangan, tampaknya mendorong kewaspadaan naik sedikit saja, cukup untuk menjaga bagian otak yang berguna tetap ikut main. Ini cara hemat tenaga untuk memberi makan sistem yang kalau dibiarkan bakal mogok. Anggap saja bukan distraksi, tapi seperti memanaskan gas motor pelan-pelan di lampu merah biar mesinnya tidak mati.
Alasan lain stimming itu penting: ia memang dibuat untuk terasa nyaman
Fokus baru separuh cerita. Ketika peneliti benar-benar bertanya pada orang dewasa autistik soal stimming mereka, bukan cuma mengamati dari luar, jawaban yang kembali hampir seluruhnya soal regulasi diri: para partisipan menggambarkannya sebagai cara yang menenangkan dan berharga untuk mengelola perasaan yang membanjir dan sensori yang kelebihan muatan, dan mereka menolak keras dipaksa menahannya (Kapp et al., 2019, Autism). Kerugian utama yang mereka sebut bukan perilakunya, melainkan penilaian orang lain, plus lelahnya terus menutup-nutupi di depan umum. Ini layak direnungkan. Kadang stim itulah mekanisme kopingnya, dan memaksanya berhenti cuma menukar gerakan yang tidak berbahaya dengan tekanan batin sungguhan.
Cara gerak-gerak dengan sengaja
Kuncinya bukan menambah stimming, tapi berhenti melawannya dan sedikit mengarahkannya. Beberapa hal yang berhasil buatku dan orang-orang yang kuajak bertukar cerita: pilih fidget yang senyap untuk ruang bersama, benda halus atau cincin putar tanpa suara, jadi kamu tetap dapat gerakannya tanpa jadi orang yang klik-klik pulpen sepanjang rapat. Sesuaikan fidget dengan tugasnya, biarkan tangan sibuk dengan sesuatu yang otomatis sementara mata dan telinga mengerjakan tugas utamanya. Itu sebabnya banyak orang corat-coret saat menelepon dan justru lebih ingat isinya, bukan lupa. Dan perhatikan mana stim yang menenangkan dan mana yang bikin makin tegang, karena kaki goyang yang menstabilkanmu saat fokus beda dengan gelisah seluruh badan yang muncul saat cemas. Yang kedua itu sinyal untuk menurunkan gigi, bukan menambah kecepatan.
Menurunkan gigi itu keterampilan tersendiri, dan di sinilah jangkar visual yang lambat terasa gunanya. Saat gelisah berubah dari berguna jadi kelewat tegang, aku memberi mataku sesuatu yang tenang dan repetitif untuk disandari: tekstur lambat di Feelsy, krim yang terlipat ke dalam dirinya sendiri atau slime yang ditekan pelan, dengan soundscape lembut di belakangnya. Ia menggaruk gatal input repetitif yang sama dengan fidget, cuma arahnya menenangkan, bukan memacu. Insting yang sama, tujuan yang beda.
Lepas catatan DUDUK MANIS itu
Ini kesimpulanku. Gerak-gerak gelisah bukan cacat karakter, dan stimming bukan sesuatu yang perlu dihapus dari diri seseorang demi kenyamanan penonton. Bagi banyak dari kita, tangan yang tidak bisa diam sedang mengerjakan tugas yang sunyi dan berguna: menahan fokus, menyetel kewaspadaan, mengurangi tajamnya lingkungan yang riuh. Tujuannya bukan diam demi diam itu sendiri. Tujuannya bekerja sama dengan insting ini, cukup pelan agar tidak mengganggu ruangan, diarahkan ke apa pun yang sedang dibutuhkan saat itu. Tanganku tidak pernah jadi masalahnya. Catatannya yang jadi masalah.
Feelsy adalah produk wellness, bukan saran medis. Kalau stres, rasa cemas, atau masalah tidur terus berlanjut, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga profesional.
Referensi
- Sarver, D. E., Rapport, M. D., Kofler, M. J., Raiker, J. S., & Friedman, L. M. (2015). Hyperactivity in Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD): Impairing Deficit or Compensatory Behavior? Journal of Abnormal Child Psychology, 43(7), 1219-1232.
- Kapp, S. K., Steward, R., Crane, L., Elliott, D., Elphick, C., Pellicano, E., & Russell, G. (2019). 'People should be allowed to do what they like': Autistic adults' views and experiences of stimming. Autism, 23(7), 1782-1792.

Tentang penulis
Kurt Woleret
Contributing writer
Kurt is a New York based writer covering the practical science of stress, sleep and focus. He is the resident sceptic of the Journal: if a technique cannot survive a crowded subway commute and a deadline week, he is not interested in it.
Feel it for yourself.
Feelsy turns reading about calm into practising it. Two minutes of a slow texture is often the whole difference.
Bacaan terkait
Meditasi VisualMeditasi untuk ADHD: Cara yang Benar-Benar Berhasil
Saran meditasi biasanya menganggap otakmu bisa duduk diam kalau disuruh. Cara otak ADHD benar-benar bisa meditasi: mata terbuka, jangkar bergerak, sesi singkat.
Meditasi VisualReset 5 Menit: Cara Menenangkan Diri Saat Waktu Nggak Ada
Kamu nggak butuh meditasi satu jam untuk turun dari lonjakan stres. Cara-cara yang didukung riset untuk me-reset sistem sarafmu dalam lima menit atau kurang.
Napas & TubuhRelaksasi Otot Progresif: Panduan Lengkap untuk Pemula
Relaksasi otot progresif melepaskan ketegangan yang tidak kamu sadari sedang kamu tahan. Panduan lengkap teknik tegangkan lalu lepaskan, langkah demi langkah.