← Feelsy Journal
Tidur6 menit baca·26 Agustus 2026

Sering Pencet Tombol Snooze, Sebenarnya Buruk Nggak? Ini Kata Riset

Katanya menekan snooze merusak tidur. Riset terbaru justru bilang sebaliknya. Ini yang terjadi selama sembilan menit ekstra itu dan siapa yang boleh tetap snooze.

Oleh Kurt Woleret

Jam weker menyala lembut di meja samping tempat tidur, dalam cahaya pagi berwarna terong yang pekat.

Alarmku bunyi jam 6.45 pagi. Jempolku, bertindak sepenuhnya atas wewenangnya sendiri, memencet snooze. Sembilan menit kemudian, ritual itu terulang. Bertahun-tahun aku merasa samar-samar bersalah karenanya, soalnya semua pakar produktivitas di internet ngotot bilang snooze itu sabotase diri: kamu memecah tidur yang berharga, membingungkan otak, memulai hari dengan kekalahan. Bangun di alarm pertama seperti tentara, kata mereka, biasanya sambil jualan suplemen. Jadi aku mencari bukti nyata bahwa snooze itu buruk. Lucunya: buktinya nyaris tidak ada. Dan studi terbaik yang kita punya justru bilang hampir sebaliknya.

Dari mana mitos anti-snooze berasal

Argumennya kedengaran meyakinkan. Tidur di antara dua alarm snooze itu dangkal dan terpotong-potong, tidur yang terfragmentasi itu buruk, jadi snooze itu buruk. Masalahnya, belum ada yang benar-benar mengujinya. Kasus anti-snooze dibangun dari perasaan dan tebakan: ambil temuan soal tidur terfragmentasi sepanjang malam, lalu anggap berlaku juga untuk tiga puluh menit terakhir di pagi hari. Itu asumsi yang besar. Ujung malam adalah zona yang aneh; tidur memang sudah lebih ringan, tubuh sudah memanaskan mesin untuk bangun, dan yang terjadi di sana mungkin main dengan aturan berbeda dari tidur jam 2 pagi. Spoiler: memang beda.

Apa yang sebenarnya ditemukan riset

Tahun 2023, peneliti tidur Tina Sundelin dan John Axelsson menerbitkan studi dua bagian di Journal of Sleep Research dengan judul yang jenaka: 'Is snoozing losing?'. Pertama mereka menyurvei lebih dari seribu orang dan menemukan bahwa kaum snoozer itu nyata dan banyak: kebanyakan anak muda dan tipe malam, rata-rata snooze sekitar 22 menit, biasanya karena memang tidak sanggup bangun di alarm pertama. Lalu bagian serunya: mereka membawa para snoozer kambuhan ke laboratorium tidur dan membandingkan tiga puluh menit snooze dengan langsung bangun di alarm pertama.

Hasilnya datar, dalam artian terbaik. Tiga puluh menit snooze hanya memangkas sekitar enam menit tidur, tidak merusak kualitas tidur secara keseluruhan, dan tidak menunjukkan efek negatif yang jelas pada kortisol pagi, suasana hati, atau rasa kantuk. Performa kognitif sesaat setelah bangun malah sedikit lebih baik setelah snooze di beberapa tes. Alasannya kemungkinan begini: menit-menit bonus yang terpotong itu menjaga kamu di tidur ringan, sehingga alarm terakhir tidak menyeretmu keluar dari tidur dalam. Artinya, sleep inertia berkurang, rasa berat seperti kepala dicor semen yang bikin dua puluh menit pertama harimu terasa seperti berjalan di adukan semen basah.

Layak direnungkan betapa mengejutkannya ini. Kortisol, hormon yang paling suka dikhawatirkan orang, tidak berulah. Suasana hati tidak anjlok. Kantuk sepanjang hari tidak memburuk. Para peneliti bahkan memeriksa arsitektur tidur sepanjang malam dan menemukan snooze tidak merusaknya secara berarti; fragmentasinya tetap terkurung di setengah jam terakhir tidur pagi yang memang sudah ringan. Sementara itu, pendekatan langsung-bangun yang dijual sebagai kedisiplinan justru berpotensi menyeretmu keluar dari tidur dalam tanpa landasan sama sekali. Kalau kamu pernah terlonjak bangun di alarm pertama lalu dua puluh menit merasa otakmu masih loading, kamu sudah kenal sisi buruk doktrin 'pokoknya bangun' itu.

Snooze bukan kegagalan moral. Buat tipe malam yang diseret bangun oleh alarm, snooze adalah pendaratan mulus, bukan jatuh terhempas.

Jadi, boleh snooze atau tidak?

Tergantung kamu orangnya seperti apa. Kalau kamu tipe malam yang dipaksa bangun lebih awal dari maunya tubuh, satu dua putaran snooze tampaknya aman dan mungkin justru memperhalus proses bangun. Partisipan studi ini adalah snoozer kambuhan yang bisa tertidur lagi di antara alarm; buat mereka, sistemnya bekerja. Tapi ada catatan jujurnya. Kalau snooze-mu molor jadi satu jam tidur-tiduran menderita, itu bukan pendaratan mulus, itu masalah jadwal yang menyamar jadi snooze. Kalau kamu berbagi tempat tidur, menit bonusmu adalah malam terpotong-potong milik orang lain. Dan kalau kamu snooze karena kronis kurang tidur, tombol snooze cuma mengobati gejala. Penyakitnya adalah jam tidurmu.

Yang tidak bisa diperbaiki snooze

Biar jelas apa yang tidak dikatakan studi ini, karena nuansa cepat mati di internet. Studi ini tidak bilang snooze memberimu istirahat ekstra; menit-menit terpotong itu tidur kualitas receh, enak tapi tidak memulihkan. Studi ini tidak menguji orang yang snooze sejam penuh, atau yang sengaja memasang alarm pertama lebih awal khusus untuk snooze, jurus yang dengan sengaja mengubah tidur asli jadi tidur receh. Dan studi ini tidak bisa menyelamatkanmu dari wabah yang sebenarnya, yaitu kurang tidur, titik. Kalau tiap pagi kamu butuh tiga alarm plus derek untuk keluar dari kasur, pertanyaannya bukan snooze atau tidak. Pertanyaannya kenapa tubuhmu sedesperat itu ingin tetap rebahan, dan jawabannya biasanya ada di sekitar jam 11 malam sebelumnya, menyala terang, di genggamanmu.

Cara bangun yang lebih baik, snooze opsional

Ada beberapa hal yang jauh lebih penting daripada soal snooze. Jam bangun yang konsisten, termasuk akhir pekan, mengajari tubuhmu kapan malam berakhir, dan lama-lama ia mulai bersiap bangun bahkan sebelum alarm berbunyi. Cahaya segera setelah bangun menjangkarkan jam biologis itu. Dan kerja beratnya justru terjadi dua belas jam sebelumnya: pagi yang paling ringan dibeli di malam sebelumnya, dengan ritual menenangkan diri sungguhan, bukan scrolling tanpa akhir. Di slot itulah aku diam-diam mengganti feed ponselku dengan Feelsy: lampu diredupkan, mode autoplay mengalir lewat tekstur-tekstur lambat, atau beberapa putaran latihan napas 4-7-8 berpanduan saat otakku masih sibuk menulis email untuk entah siapa. Tidurlah dengan sistem saraf yang sudah mendarat, dan alarm jam 6.45 jadi terasa jauh lebih ramah. Mau snooze dua kali? Silakan. Kata sains, aman. Asal jangan biarkan tombol snooze jadi tiang utama penyangga jadwal tidurmu.

Feelsy adalah produk wellness, bukan saran medis. Kalau stres, rasa cemas, atau masalah tidur terus berlanjut, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga profesional.

Referensi

  1. Sundelin, T., Landry, S., & Axelsson, J. (2023). Is snoozing losing? Why intermittent morning alarms are used and how they affect sleep, cognition, cortisol, and mood. Journal of Sleep Research, 33(2), e14054.

Pertanyaan umum

Apakah menekan tombol snooze buruk untuk kesehatan?

Riset terbaik yang ada menunjukkan tidak, setidaknya untuk orang yang terbiasa snooze. Studi tahun 2023 di Journal of Sleep Research menemukan bahwa tiga puluh menit snooze hanya mengurangi tidur sekitar enam menit dan tidak menunjukkan efek negatif yang jelas pada kortisol pagi, suasana hati, atau rasa kantuk. Performa kognitif sesaat setelah bangun malah sedikit lebih baik setelah snooze.

Kenapa snooze terasa nikmat banget di pagi hari?

Snooze menjaga kamu di tidur ringan pada babak akhir pagi, jadi alarm terakhir tidak menarikmu keluar dari tidur dalam. Hasilnya, sleep inertia berkurang, yaitu rasa berat dan lemas yang biasanya menempel setelah bangun mendadak. Buat tipe malam yang dipaksa bangun lebih awal dari jam biologisnya, menit-menit bonus itu bekerja seperti landasan pacu yang lebih halus menuju hari.

Berapa kali boleh menekan snooze?

Tidak ada angka resmi, tapi riset menguji sekitar tiga puluh menit snooze tanpa efek buruk, dan para snoozer kambuhan rata-rata di kisaran dua puluh menit. Satu dua putaran itu pendaratan mulus. Kalau kamu snooze sejam penuh sambil menderita, masalahnya bukan tombolnya; masalahnya jam tidurmu atau total kebutuhan tidurmu, dan itulah yang perlu dibenahi.

Apa yang lebih penting daripada snooze atau tidak?

Jam bangun yang konsisten, cahaya pagi, dan total tidur yang cukup mengalahkan strategi alarm apa pun. Bangun di jam yang kira-kira sama setiap hari melatih jam biologismu untuk bersiap bangun sebelum alarm berbunyi. Dan pagi yang paling ringan disiapkan sejak malam sebelumnya lewat ritual menenangkan diri, cahaya redup, dan penurunan yang kalem alih-alih scrolling sampai larut.

Portrait of Kurt Woleret

Tentang penulis

Kurt Woleret

Contributing writer

Kurt is a New York based writer covering the practical science of stress, sleep and focus. He is the resident sceptic of the Journal: if a technique cannot survive a crowded subway commute and a deadline week, he is not interested in it.

Feel it for yourself.

Feelsy turns reading about calm into practising it. Two minutes of a slow texture is often the whole difference.

Download Feelsy on the App StoreGet Feelsy on Google Play

Bacaan terkait

Kamar tidur di remang sore, ranjang bermandikan cahaya lavender lembut dengan pita hangat cahaya aqua dari jendela melintang di atasnya.
Tidur

Tidur Siang Idealnya Berapa Lama? Sains agar Bangun Lebih Segar

Sepuluh menit, dua puluh, sembilan puluh? Lama tidur siang menentukan kamu bangun segar atau malah berantakan. Ini kata riset tidur soal durasi ideal dan cara mengaturnya.

Kurt WoleretJul 31, 20266 menit baca
Tempat tidur kosong yang tenang di kamar berwarna terong nyaris hitam, cahaya bulan lavender jatuh di seprai dengan pendar lembut rose dan aqua, menghadirkan keheningan sebelum tidur.
Tidur

Metode Tidur Militer: Beneran Bisa Bikin Tertidur dalam 2 Menit?

Metode tidur militer katanya bikin kamu tertidur dalam 2 menit. Dari mana asalnya, bagaimana langkah-langkahnya, dan seberapa masuk akal klaim 96 persen itu.

Kurt WoleretAug 7, 20267 menit baca
Seseorang duduk di tepi tempat tidur saat subuh, cahaya lembut keunguan masuk lewat jendela.
Tidur

Kenapa Masih Ngantuk Padahal Sudah Tidur 8 Jam?

Sudah tidur 8 jam tapi bangun tetap lelah? Lama di kasur tidak sama dengan tidur berkualitas: tidur terputus, jadwal berantakan, kafein, dan cara memperbaikinya.

Kurt WoleretAug 25, 20267 menit baca
Jam analog di meja samping tempat tidur berpendar lembut saat fajar di sebelah sosok yang tertidur, dengan cahaya lavender dan aqua merembes lewat tirai ke bayangan terong yang pekat.
TidurNew

Kenapa Kamu Sering Bangun Tepat Sebelum Alarm Berbunyi

Bangun beberapa menit sebelum alarm itu bukan hal mistis. Jam biologismu memprediksi pagi dan menyiapkan tubuh lebih dulu. Ini sains di balik bangun sebelum alarm.

Kurt WoleretNov 3, 20267 menit baca
Kamar tidur bermandikan cahaya bulan yang terbelah seberkas cahaya lembut, satu lilin menyala di samping tempat tidur di bawah langit ungu terong pekat, dengan aksen lavender dan aqua.
Tidur

Tidur Bifasik: Benarkah Tidur Dua Sesi Semalam Itu Alami?

Tidur bifasik membagi malam jadi dua blok dengan jeda tenang di tengahnya. Ini kata sejarah dan riset tidur soal tidur dua sesi dan siapa yang cocok.

Kurt WoleretOct 31, 20267 menit baca
Langit yang berubah dari malam ungu terong pekat dengan bulan sabit dan siluet burung hantu menjadi fajar lembut berwarna mawar dan biru laut di atas perbukitan yang tenang.
Tidur

Tim Begadang vs Tim Bangun Pagi: Sains di Balik Kronotipe

Suka begadang atau gampang bangun pagi bukan soal rajin atau malas, tapi kronotipe bawaan tubuh. Ini kata sains soal jam biologis dan cara berdamai dengannya.

Kurt WoleretOct 30, 20267 menit baca