Sering Pencet Tombol Snooze, Sebenarnya Buruk Nggak? Ini Kata Riset
Katanya menekan snooze merusak tidur. Riset terbaru justru bilang sebaliknya. Ini yang terjadi selama sembilan menit ekstra itu dan siapa yang boleh tetap snooze.
Oleh Kurt Woleret

Alarmku bunyi jam 6.45 pagi. Jempolku, bertindak sepenuhnya atas wewenangnya sendiri, memencet snooze. Sembilan menit kemudian, ritual itu terulang. Bertahun-tahun aku merasa samar-samar bersalah karenanya, soalnya semua pakar produktivitas di internet ngotot bilang snooze itu sabotase diri: kamu memecah tidur yang berharga, membingungkan otak, memulai hari dengan kekalahan. Bangun di alarm pertama seperti tentara, kata mereka, biasanya sambil jualan suplemen. Jadi aku mencari bukti nyata bahwa snooze itu buruk. Lucunya: buktinya nyaris tidak ada. Dan studi terbaik yang kita punya justru bilang hampir sebaliknya.
Dari mana mitos anti-snooze berasal
Argumennya kedengaran meyakinkan. Tidur di antara dua alarm snooze itu dangkal dan terpotong-potong, tidur yang terfragmentasi itu buruk, jadi snooze itu buruk. Masalahnya, belum ada yang benar-benar mengujinya. Kasus anti-snooze dibangun dari perasaan dan tebakan: ambil temuan soal tidur terfragmentasi sepanjang malam, lalu anggap berlaku juga untuk tiga puluh menit terakhir di pagi hari. Itu asumsi yang besar. Ujung malam adalah zona yang aneh; tidur memang sudah lebih ringan, tubuh sudah memanaskan mesin untuk bangun, dan yang terjadi di sana mungkin main dengan aturan berbeda dari tidur jam 2 pagi. Spoiler: memang beda.
Apa yang sebenarnya ditemukan riset
Tahun 2023, peneliti tidur Tina Sundelin dan John Axelsson menerbitkan studi dua bagian di Journal of Sleep Research dengan judul yang jenaka: 'Is snoozing losing?'. Pertama mereka menyurvei lebih dari seribu orang dan menemukan bahwa kaum snoozer itu nyata dan banyak: kebanyakan anak muda dan tipe malam, rata-rata snooze sekitar 22 menit, biasanya karena memang tidak sanggup bangun di alarm pertama. Lalu bagian serunya: mereka membawa para snoozer kambuhan ke laboratorium tidur dan membandingkan tiga puluh menit snooze dengan langsung bangun di alarm pertama.
Hasilnya datar, dalam artian terbaik. Tiga puluh menit snooze hanya memangkas sekitar enam menit tidur, tidak merusak kualitas tidur secara keseluruhan, dan tidak menunjukkan efek negatif yang jelas pada kortisol pagi, suasana hati, atau rasa kantuk. Performa kognitif sesaat setelah bangun malah sedikit lebih baik setelah snooze di beberapa tes. Alasannya kemungkinan begini: menit-menit bonus yang terpotong itu menjaga kamu di tidur ringan, sehingga alarm terakhir tidak menyeretmu keluar dari tidur dalam. Artinya, sleep inertia berkurang, rasa berat seperti kepala dicor semen yang bikin dua puluh menit pertama harimu terasa seperti berjalan di adukan semen basah.
Layak direnungkan betapa mengejutkannya ini. Kortisol, hormon yang paling suka dikhawatirkan orang, tidak berulah. Suasana hati tidak anjlok. Kantuk sepanjang hari tidak memburuk. Para peneliti bahkan memeriksa arsitektur tidur sepanjang malam dan menemukan snooze tidak merusaknya secara berarti; fragmentasinya tetap terkurung di setengah jam terakhir tidur pagi yang memang sudah ringan. Sementara itu, pendekatan langsung-bangun yang dijual sebagai kedisiplinan justru berpotensi menyeretmu keluar dari tidur dalam tanpa landasan sama sekali. Kalau kamu pernah terlonjak bangun di alarm pertama lalu dua puluh menit merasa otakmu masih loading, kamu sudah kenal sisi buruk doktrin 'pokoknya bangun' itu.
Snooze bukan kegagalan moral. Buat tipe malam yang diseret bangun oleh alarm, snooze adalah pendaratan mulus, bukan jatuh terhempas.
Jadi, boleh snooze atau tidak?
Tergantung kamu orangnya seperti apa. Kalau kamu tipe malam yang dipaksa bangun lebih awal dari maunya tubuh, satu dua putaran snooze tampaknya aman dan mungkin justru memperhalus proses bangun. Partisipan studi ini adalah snoozer kambuhan yang bisa tertidur lagi di antara alarm; buat mereka, sistemnya bekerja. Tapi ada catatan jujurnya. Kalau snooze-mu molor jadi satu jam tidur-tiduran menderita, itu bukan pendaratan mulus, itu masalah jadwal yang menyamar jadi snooze. Kalau kamu berbagi tempat tidur, menit bonusmu adalah malam terpotong-potong milik orang lain. Dan kalau kamu snooze karena kronis kurang tidur, tombol snooze cuma mengobati gejala. Penyakitnya adalah jam tidurmu.
Yang tidak bisa diperbaiki snooze
Biar jelas apa yang tidak dikatakan studi ini, karena nuansa cepat mati di internet. Studi ini tidak bilang snooze memberimu istirahat ekstra; menit-menit terpotong itu tidur kualitas receh, enak tapi tidak memulihkan. Studi ini tidak menguji orang yang snooze sejam penuh, atau yang sengaja memasang alarm pertama lebih awal khusus untuk snooze, jurus yang dengan sengaja mengubah tidur asli jadi tidur receh. Dan studi ini tidak bisa menyelamatkanmu dari wabah yang sebenarnya, yaitu kurang tidur, titik. Kalau tiap pagi kamu butuh tiga alarm plus derek untuk keluar dari kasur, pertanyaannya bukan snooze atau tidak. Pertanyaannya kenapa tubuhmu sedesperat itu ingin tetap rebahan, dan jawabannya biasanya ada di sekitar jam 11 malam sebelumnya, menyala terang, di genggamanmu.
Cara bangun yang lebih baik, snooze opsional
Ada beberapa hal yang jauh lebih penting daripada soal snooze. Jam bangun yang konsisten, termasuk akhir pekan, mengajari tubuhmu kapan malam berakhir, dan lama-lama ia mulai bersiap bangun bahkan sebelum alarm berbunyi. Cahaya segera setelah bangun menjangkarkan jam biologis itu. Dan kerja beratnya justru terjadi dua belas jam sebelumnya: pagi yang paling ringan dibeli di malam sebelumnya, dengan ritual menenangkan diri sungguhan, bukan scrolling tanpa akhir. Di slot itulah aku diam-diam mengganti feed ponselku dengan Feelsy: lampu diredupkan, mode autoplay mengalir lewat tekstur-tekstur lambat, atau beberapa putaran latihan napas 4-7-8 berpanduan saat otakku masih sibuk menulis email untuk entah siapa. Tidurlah dengan sistem saraf yang sudah mendarat, dan alarm jam 6.45 jadi terasa jauh lebih ramah. Mau snooze dua kali? Silakan. Kata sains, aman. Asal jangan biarkan tombol snooze jadi tiang utama penyangga jadwal tidurmu.
Feelsy adalah produk wellness, bukan saran medis. Kalau stres, rasa cemas, atau masalah tidur terus berlanjut, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga profesional.
Referensi
- Sundelin, T., Landry, S., & Axelsson, J. (2023). Is snoozing losing? Why intermittent morning alarms are used and how they affect sleep, cognition, cortisol, and mood. Journal of Sleep Research, 33(2), e14054.
Pertanyaan umum
Apakah menekan tombol snooze buruk untuk kesehatan?
Riset terbaik yang ada menunjukkan tidak, setidaknya untuk orang yang terbiasa snooze. Studi tahun 2023 di Journal of Sleep Research menemukan bahwa tiga puluh menit snooze hanya mengurangi tidur sekitar enam menit dan tidak menunjukkan efek negatif yang jelas pada kortisol pagi, suasana hati, atau rasa kantuk. Performa kognitif sesaat setelah bangun malah sedikit lebih baik setelah snooze.
Kenapa snooze terasa nikmat banget di pagi hari?
Snooze menjaga kamu di tidur ringan pada babak akhir pagi, jadi alarm terakhir tidak menarikmu keluar dari tidur dalam. Hasilnya, sleep inertia berkurang, yaitu rasa berat dan lemas yang biasanya menempel setelah bangun mendadak. Buat tipe malam yang dipaksa bangun lebih awal dari jam biologisnya, menit-menit bonus itu bekerja seperti landasan pacu yang lebih halus menuju hari.
Berapa kali boleh menekan snooze?
Tidak ada angka resmi, tapi riset menguji sekitar tiga puluh menit snooze tanpa efek buruk, dan para snoozer kambuhan rata-rata di kisaran dua puluh menit. Satu dua putaran itu pendaratan mulus. Kalau kamu snooze sejam penuh sambil menderita, masalahnya bukan tombolnya; masalahnya jam tidurmu atau total kebutuhan tidurmu, dan itulah yang perlu dibenahi.
Apa yang lebih penting daripada snooze atau tidak?
Jam bangun yang konsisten, cahaya pagi, dan total tidur yang cukup mengalahkan strategi alarm apa pun. Bangun di jam yang kira-kira sama setiap hari melatih jam biologismu untuk bersiap bangun sebelum alarm berbunyi. Dan pagi yang paling ringan disiapkan sejak malam sebelumnya lewat ritual menenangkan diri, cahaya redup, dan penurunan yang kalem alih-alih scrolling sampai larut.

Tentang penulis
Kurt Woleret
Contributing writer
Kurt is a New York based writer covering the practical science of stress, sleep and focus. He is the resident sceptic of the Journal: if a technique cannot survive a crowded subway commute and a deadline week, he is not interested in it.
Feel it for yourself.
Feelsy turns reading about calm into practising it. Two minutes of a slow texture is often the whole difference.
Bacaan terkait
TidurTidur Siang Idealnya Berapa Lama? Sains agar Bangun Lebih Segar
Sepuluh menit, dua puluh, sembilan puluh? Lama tidur siang menentukan kamu bangun segar atau malah berantakan. Ini kata riset tidur soal durasi ideal dan cara mengaturnya.
TidurMetode Tidur Militer: Beneran Bisa Bikin Tertidur dalam 2 Menit?
Metode tidur militer katanya bikin kamu tertidur dalam 2 menit. Dari mana asalnya, bagaimana langkah-langkahnya, dan seberapa masuk akal klaim 96 persen itu.
TidurKenapa Masih Ngantuk Padahal Sudah Tidur 8 Jam?
Sudah tidur 8 jam tapi bangun tetap lelah? Lama di kasur tidak sama dengan tidur berkualitas: tidur terputus, jadwal berantakan, kafein, dan cara memperbaikinya.
TidurNewCoffee Nap: Kenapa Ngopi Sebelum Tidur Siang Justru Bikin Kamu Lebih Segar
Coffee nap artinya minum kopi lalu langsung tidur siang 20 menit. Kedengarannya terbalik, tapi rahasianya ada di waktu kerja kafein. Ini sains dan caranya.
TidurNewKenapa Susah Tidur di Hotel? Ini Penjelasan First Night Effect
Selalu susah tidur di malam pertama di tempat baru? Itu first night effect: separuh otakmu benar-benar tetap berjaga. Ini penjelasan sains dan cara mengatasinya.
TidurFeng Shui Kamar Tidur: Menata Kamar Supaya Tidur Lebih Nyenyak
Cara feng shui menata kamar supaya tidurmu lebih nyenyak: posisi ranjang, barang berantakan, warna dan cahaya, plus temuan riset tidur soal kamar tenang.